Rabu, 30 Oktober 2013

Kegiatan Bulan Bahasa





                               BULAN BAHASA

Pelaksanaan Lomba Untuk Memperingati Bulan Bahasa & Sumpah Pemuda di SMA Negeri 1 Belitang

        Bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Bahasa. Disebut demikian, karena pada bulan tersebut terjadi peristiwa Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam peristiwa itu, para pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan diri pada satu simpul Sumpah Pemuda yang berisikan pengakuan satu bangsa, bangsa Indonesia; satu tanah air, tanah air Indonesia; dan satu bahasa, bahasa Indonesia. Atas dasar itu, barangkali bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Bahasa.
Ikrar Sumpah Pemuda


  
Di SMANSABEL Bulan Bahasa dilaksanakan setiap 1 tahun sekali dimana setiap siswa dapat mengapresiasikan inspirasi mereka seperti ;

v  CIPTA DAN BACA PUISI
v  MC RESMI
v  TUTUR CERITA RAKYAT
v  RANKING 1
v  PIDATO MENURUT TOKOH
v  LAWAK

Nah dan inilah hasil foto-foto yang berhasil saya ambil.




Foto Lomba MC Resmi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7oU-ROhbZcdCnTVXrkTY5KWnrmpQB40e2VHhWKyaKrvTizjw3aSnuf__w1Xj3BUK5aN_EddFoPuw0iUI_v6RvfDHGkreNuydCNSCjursaikR59AvJu8IkQeILCjos0YB7N3Ddj2FWsl8/s1600/IMG_20131028_143833.jpg


 Foto Pidato Meniru Tokoh
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKQ-A9Iz784YI7yaCJDLMrszj3QXUHIFpazVog4Hc2G6padT7V9v81SeKviW5RQFtWXGqD4CPJ1qnhFrD-Ra1559N0F90osJaquAMm9X9soTk_wcUBBMbxORZBlB4sHgeKXfAjwGde8PY/s1600/IMG_20131028_122628.jpg


    Foto Lomba Rangking 1

   lomba lawak xia.4

 



    

 

 


itulah sedikit gambar yang dapat saya ambil ketika acara bulan bahasa kemarin.

     & Trimakasih telah berkunjung di blog saya.


GPRS IPA 4 ........
MAJU TERUS PANTANG MUNDUR

Rabu, 09 Oktober 2013

Posting Ketiga

Februari 21, 2012 MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR Pendahuluan Pertanyaan yang selalu menjadi fokus pikiran orang tua dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan belajar adalah: “Bagaimanakah sebaiknya belajar itu dilakukan agar dapat berhasil dengan memuaskan?”. Setiap orang tua ingin agar anaknya selalu sukses dan berusaha agar dapat menyelesaikan pelajarannya dengan baik. Guru-guru juga berusaha memberikan bantuan dan bimbingan kepada para siswanya agar mereka berhasil dalam pelajarannya. Alangkah sedihnya jika seseorang yang mengenyam pendidikan di sekolah telah kehilangan gairah belajarnya. Penyebab turunnya gairah belajar yang sering terjadi adalah kekecewaan, derajat inteligensi yang kurang dan kemalasan akibat ketidaktahuan siswa terhadap tujuan belajar yang sebenarnya. Kekecewaan merupakan gangguan psikologis yang diakibatkan oleh berbagai peristiwa yang telah dialaminya dan kekecewaan ini akan menimbulkan keengganan, termasuk di antaranya ialah enggan untuk belajar. Setiap pelajar tentu menyadari bahwa kepentingan belajar merupakan bagian dari tugas hidupnya kini. Mereka sebenarnya tidak menghendaki kegagalan studi terjadi pada dirinya. Yang dimaksud kegagalan studi disini adalah tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Bahkan dalam hati kecilnya berkeinginan memperoleh prestasi tinggi selama pendidikan sehingga akhirnya timbul pertanyaan pada mereka, “Bagaimana cara meningkatkan prestasi belajar?”. Sebelum mengulas tentang cara-cara meningkatkan prestasi belajar, terlebih dahulu kita membahas tentang pengertian belajar. Tinjauan terhadap pengertian belajar ini lebih bersifat psikologis sebagai landasan pembahasan teknik-teknik belajar atau untuk meneliti cara-cara belajar yang efisien yang sebaiknya dilakukan. 1. Definisi belajar Para ahli pendidikan modern mengemukakan pendapatnya mengenai perbuatan belajar sebagai berikut: Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku baru yang diperoleh dari pengalaman atau latihan. Tingkah laku yang baru ini misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmaniah. Perumusan pengertian perbuatan belajar ini meliputi perubahan jasmaniah dan rohaniah. Kedua aspek ini saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Keduanya merupakan aspek-aspek yang bersifat komplementer. Manusia dan perbuatannya selalu menuntut kegiatan jasmani dan rohani. Misalnya, membaca buku adalah perpaduan antara kegiatan jasmaniah dan gerakan rohaniah. Gerakan jasmaniah berupa gerakan mata, gerakan tangan, dan sikap tubuh. Sedangkan gerakan rohaniah ialah berupa mengolah pengertian-pengertian yang ada dalam bacaan, membandingkan, mengingat kembali, memikirkan persoalan dan lain sebagainya. Setiap perbuatan belajar senantiasa memiliki aspek jasmaniah yang disebut struktur, dan aspek rohaniah yang disebut fungsi. Otak kita sebagai kegiatan yang penting dalam diri mengandung kedua aspek tersebut. Otak sendiri adalah strukturnya dan berpikir adalah fungsinya. Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti contoh, apabila otak sedang cedera, maka fungsi berpikirnya akan terganggu. Sebaliknya, apabila fungsi berpikir dari otak itu tidak normal, maka struktur otak akan berubah bentuknya juga. 2. Gambaran tentang proses belajar Telah sama-sama diketahui bahwa belajar senantiasa merupakan kegiatan yang berlangsung di dalam suatu proses dan terarah menuju pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dibawah ini akan digambarkan tentang bagaimana proses belajar itu terjadi: Langkah-langkah kegiatan belajar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Seseorang memiliki motivasi dan melihat suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai. Lalu kemudian mengarahkan perbuatannya dengan motivasi tadi. Dengan sadar, ia memfokuskan perhatiannya kepada ke arah tujuannya itu dan mengarahkan segala daya yang ada untuk diarahkan kepada tujuan itu. Dengan menggunakan kecakapannya (inteligensi), ia berusaha mencoba menemukan sebuah metode atau cara baru untuk mencapai suatu tujuan, atau juga memperbaiki metode yang telah ia miliki. Selanjutnya, ia menggunakan pengalaman-pengalamannya yang lalu yang telah dimiliki terhadap tugas-tugas yang dihadapinya, memisahkan unsur-unsur yang ada di dalam situasi sekarang dengan maksud menghayati metode secara tepat dan mengintegrasikan (menyatukan) semua jawaban yang sama sekali baru yang tingkatannya lebih tinggi. Di dalam proses pemisahan dan integrasi itu, ia menghilangkan atau membuang metode-metode yang dirasa tidak cocok, mencari jawaban yang benar dan menjadikan suatu metode baru untuk dijadikan sebagai pola kelakuan baru (learned behavior pattern) yang dapat digunakan ke dalam situasi yang lain. Tegasnya, hal tersebut sedang terjadi perubahan tingkah laku. Langkah-langkah belajar diatas dapat dibuat contoh sebagai berikut: Seorang pelajar SMA kelas XII mempunyai motivasi ingin meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran. Dengan sadar ia memfokuskan perhatian ke arah tujuan yang dibuatnya itu dan mengerahkan segala daya untuk mempelajari semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran. Dengan menggunakan kecakapannya, ia berusaha menemukan metode belajar yang baik untuk mencapai tujuan ini. Misalnya mengumpulkan bahan pelajaran, ikut bimbingan tes, belajar di tempat yang tenang, belajar sendiri dan ikut belajar kelompok. Selanjutnya ia memakai pengalaman yang lalu untuk melaksanakan tugas ini dengan maksud menghayati metode belajar secara tepat. Dengan metode belajar ini, ia dapat menemukan jawaban-jawaban yang benar dan membuang jawaban-jawaban yang salah dalam menjawab soal-soal semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran, sehingga pada akhirnya timbul kelakukan baru dalam bentuk: a) Jasmani: perubahan dalam sikap, kebiasaan, dan timbul keterampilan dalam menjawab soal semua mata pelajaran. b) Rohani: dari tidak tahu menjadi tahu sehingga mampu mengingat semua mata pelajaran yang dipergunakan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran. 3. Prinsip-prinsip belajar Proses belajar memang beragam dan kompleks, tetapi dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut: 1) Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan yang saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungannya. 2) Belajar harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya melalui belajar untuk mencapai harapan-harapannya. 3) Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni bersumber dari dalam dirinya sendiri. 4) Proses belajar selalu ada rintangan dan hambatan. Maka dari itu, siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat. 5) Belajar senantiasa membutuhkan bimbingan, baik dari guru/dosen atau tuntunan dari buku pelajaran itu sendiri. 6) Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berpikir kritis. Berpikir kritis ini lebih baik daripada pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanis. 7) Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk pemecahan masalah yang diselesaikan melalui kerja kelompok (belajar kelompok), asalkan masalah yang akan dibahas telah disadari bersama. 8) Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. 9) Belajar memerlukan latihan dan ulangan/ujian agar materi yang sudah dipelajari dapat dikuasai. 10) Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan/hasil yang diinginkan 11) Proses belajar dapat dikatakan berhasil dan sukses apabila siswa telah sanggup memindahkan atau menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. 4. Cara-Cara Belajar Yang Baik Belajar akan lebih berhasil apabila pelajar memiliki: 1) Kesadaran atas tanggung jawab belajar; 2) Cara belajar yang efisien; dan 3) Beberapa syarat yang diperlukan. Ada beberapa hal yang harus diingat dan menjadi catatan bagi setiap pelajar adalah: Yang pertama, tanggung jawab belajar terletak dalam diri setiap pelajar masing-masing. Jika muncul sebuah pertanyaan, siapakah pelaku belajar dan siapa pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar itu? Maka jawabnya adalah bahwa masing-masing pelajarlah yang melakukan proses belajar dan mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengusahakannya agar supaya berhasil. Andaikata seorang pelajar tersebut mengalami kegagalan dalam belajar, maka pelajar tersebutlah yang menanggung akibatnya. Tidak mungkin perbuatan belajar dilakukan oleh orang lain demi kepentingan si pelajar itu sendiri. Orang lain (guru, orang tua, teman sebaya) hanya bertugas memberi petunjuk, tuntunan, atau bimbingan, kemudian selanjutnya pelajar sendiri yang mengolah, menyimpan, dan memanifastasikan serta menerapkannya. Oleh sebab itu, sebagian besar kesuksesan terletak pada usaha yang dilakukan si pelajar itu sendiri. Maka, faktor kemauan, bakat minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita yang tinggi merupakan unsur-unsur mutlak yang mendukung usaha yang dilakukan oleh si pelajar tersebut. Jangan sampai muncul anggapan bahwa belajar itu: 1) Cukup ala kadarnya 2) Tak menimbulkan hasrat ingin tahu 3) Tak punya keinginan untuk maju Sehingga aktivitas belajar tidak berencana dan dilakukan asal sempat saja. Pandangan yang demikian itu sudah tentu sangat keliru dan tidak boleh untuk diikuti. Yang kedua, cara belajar yang efisien akan mempertinggi hasil belajar. Cara belajar yang efisien artinya cara belajar yang tepat, praktis, ekonomis, dan terarah sesuai dengan situasi dan tuntutan yang ada guna mencapai tujuan belajar. Hasil belajar yang diperoleh akan sangat bergantung pada bagaimana cara belajar yang dilakukan. Dengan menggunakan cara belajar yang efisien maka akan meningkatkan serta mempertinggi hasil belajarnya. Ada beberapa cara belajar yang baik yang bisa digunakan antara lain: a) Membuat rencana belajar (program studi) yang dapat dijadikan semacam rencana belajar selanjutnya. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari pembuatan rencana belajar ini, antara lain: 1) Sebagai wadah penyimpanan berbagai jenis catatan dan bahan-bahan berguna lainnya. 2) Sebagai alat belajar dan mempermudah pekerjaan yang berguna untuk mencapai tujuan. 3) Memberikan motivasi belajar dan merangsang belajar secara teratur. 4) Bagi guru, dapat mempergunakannya sebagai sarana penilaian bagi siswa, terutama dalam hal kebersihan dan kerajinan siswa. 5) Dapat membantu teman sebayanya yang ketinggalan atau yang catatannya kurang lengkap. Pembuatan rencana belajar dalam sebuah buku catatan ini dianjurkan agar ditulis secara teliti dan serapi mungkin serta disusun secara sistematis, logis, teratur dan bersih, jangan dicampuradukkan dengan catatan-catatan yang lain agar tidak membingungkan si penulis. Begitu pula dengan merawat buku rencana belajar ini. Diusahakan buku catatan rencana belajar agar disimpan dan dipelihara dengan baik. Hal itu penting untuk efisiensi belajar. b) Syarat-Syarat Yang Harus Diperhatikan Dalam Belajar Beberapa syarat yang perlu diperhatikan agar siswa dapat dengan baik, yakni meliputi faktor-faktor: 1) Kesehatan jasmaniah Jasmani yang sehat berarti tidak mengalami penyakit tertentu, dan tercukupinya gizi sehingga fungsi badan berjalan dengan baik. 2) Rohani yang sehat Rohani yang sehat berarti tidak terganggu syaraf / jiwanya, tidak mengalami gangguan emosional dan berpikiran tenang dan stabil. Dan juga tidak mempunyai banyak persoalan yang menyangkut pribadi pelajar maupun persoalan lingkungan yang mempengaruhi jiwanya. Sebab kondisi psikologis sangat mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan pelajar. 3) Lingkungan yang tenang Yakni lingkungan yang tidak sedang dalam kondisi ribut, ramai, dan beberapa gangguan suara lainnya. 4) Tempat belajar yang menyenangkan Tempat yang efektif untuk belajar adalah tersedianya cukup udara, ventilasi yang memadai, penerangan yang cukup dan lain sebagainya. 5) Tersedianya cukup bahan dan alat-alat pelajaran yang diperlukan Bahan-bahan dan alat-alat yang menjadi sumber belajar sebaiknya tersedia dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Apabila kurang maka setidak-tidaknya akan menghambat tercapainya hasil belajar yang memuaskan. Dengan memakai cara-cara tersebut diatas maka diharapkan akan meningkatkan prestasi belajar setiap siswa dengan tidak melupakan sebuah upaya untuk meningkatkan gairah belajar dan pembiasaan hidup disiplin secara teratur. c) Teknik Mempelajari Buku Pelajaran Teknik mempelajari buku pelajaran antara lain: 1) Membaca buku pelajaran harus ada tujuan tertentu, tidak asal membaca dan harus mampu memahami isi buku. 2) Menggarisbawahi hal-hal yang penting dari isi buku. 3) Membuat rangkuman (outline) dari setiap mata pelajaran d) Membuat Diskusi Kelompok Membentuk kelompok teman-teman untuk belajar bersama terdiri dari 5-8 orang dan direncanakan berdiskusi bersama dalam kelompok dengan topik atau masalah yang ditentukan lebih dahulu. Berdiskusi kelompok sebaiknya dilakukan secara kontinu dan setiap anggota kelompok harus belajar lebih dahulu mengenai topik yang akan didiskusikan. Dengan diskusi kelompok akan diperoleh: 1) pertukaran pendapat 2) pengalaman dari teman yang lain 3) ada take and give dalam belajar. 4) lebih mudah menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. 5) menambah efisiensi belajar 6) membantu teman-teman yang malas, pemalu, dan sebagainya e) Melakukan Tanya Jawab Setiap mata pelajaran yang kurang dimengerti sebaiknya ditanyakan pada guru atau teman sebayanya yang lebih pandai dan mengerti, sehingga mata pelajaran dapat dimengerti semuanya. Dengan demikian akan lebih memudahkan untuk memahami dan menghafal pelajaran yang dipelajarinya. f) Belajar Berpikir Kritis Penguasaan keterampilan berupa berpikir mendalam (kritis) merupakan suatu syarat mutlak cara belajar secara efisien. Dengan berpikir kritis maka akan dapat memecahkan masalah dari setiap mata pelajaran yang telah diberikan di sekolah. g) Memantapkan Hasil Belajar Mempelajari suatu mata pelajaran hendaknya dilakukan berkali-kali, seperti ulangan harian atau latihan-latihan soal. Cara ini disebut pemantapan hasil belajar atau kompetensi siswa. Dengan begitu, maka akan melatih siswa untuk lebih memahami isi pelajaran dan tidak mudah dilupakan begitu saja. Sumber: Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.

Kamis, 03 Oktober 2013

posting pertama

selamat datang di blog saya
Nama       : lira larasati
kelas        : XI IPA 4
No.absen : 18
email       : lira.larasati97@gmail.com
sukses s'lalu
EMPAT PENYEBAB ANAK MALAS BELAJAR
Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua.

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

1. Komunikasi tidak efektif

Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan

‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas

Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik

Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.

sumber: http://ahzami.wordpress.com